Sabtu, 27 April 2013

asuhan keperawatan insufisiensi aorta





unej.png




ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
INSUFISIENSI AORTA









oleh

Kelompok 10 





Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Jember
2012






DAFTAR ISI

Halaman         
COVER..................................................................................................        i
HALAMAN JUDUL............................................................................        ii
DAFTAR ISI.........................................................................................        iii
BAB 1. PENDAHULUAN...................................................................        1
1.1         Epidemiologi..................................................................................        1
1.2         Anatomi Fisiologi..........................................................................        2
BAB 2. KONSEP DASAR PENYAKIT............................................        6
2.1.... Definisi..........................................................................................        6
2.2.... Etiologi..........................................................................................        6
2.3.... Patofisiologi...................................................................................        9
2.4.... Tanda dan Gejala...........................................................................        12
2.5.... Manifestasi Klinis..........................................................................        13
2.6.... Posedur diagnostik........................................................................        14
2.7.... Penata Laksanaan Medis...............................................................        15
2.8.... Komplikasi.....................................................................................        15
BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN................................................        16
3.1.... Pengkajian:.....................................................................................        16
3.1.1. Riwayat Kesehatan..............................................................        16
3.1.2. Pengkajian: NANDA...........................................................        17
3.1.3. Pemeriksaan Fisik.................................................................        17
3.1.4. Pemeriksaan Penunjang........................................................        18
3.1.5. Analisa Data dan Masalah....................................................        19
3.1.6. Pathway................................................................................        20
3.2.... Diagnosa Keperawatan..................................................................        21
3.3.... Intervensi Keperawatan.................................................................        22
3.4.... Implementasi Keperawatan...........................................................        26
3.5.... Evaluasi Keperawatan...................................................................        28
3.6.... Discharge Planning.......................................................................        29
BAB 4. PENUTUP................................................................................        30
4.1.... Kesimpulan....................................................................................        30
4.2.... Saran..............................................................................................        30
DAFTAR PUSTAKA   




 


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Epidemiologi
Insufisiensi aorta mengenai sekitar 5:10.000 populasi. Insidens lebih tinggi pada pria terutama pada yang berumur 30-60 tahun. Insufisiensi aorta biasanya disertai dengan kelainan jantung lain, seperti VSD tipe membran (konoventrikuler atau tipe konal septal (infundibuloventrikuler), kelainan katup aorta subvalvular, displasia daun katup tanpa fusi komisura, dan hilangnya 2 atau 3 daun katup aorta. Resiko terjadinya kematian prematur, komplikasi, dan kebutuhan akan pengobatan karena penyakit jantung kongenital sedikitnya 50% dari populasi penderita.
Sekitar 2/3 pasien regurgitasi aorta, penyebabnya adalah demam reumatik yang menimbulkan penebalan, deformasi, dan pemendekan daun katup aorta. Hal ini mengakibatkan pembukaan pada sistole dan penutupan saat diastole menjadi tidak sempurna. Namun, kejadian demam rematik jarang menjadi regurgitasi aorta yang tersendiri.
Demam rematik akut berhubungan dengan derajat variasi valvulitis dan miokarditis. Penelitian di New Zaeland memperlihatkan bahwa disfungsi kontraksi ventrikel kiri selama dan setelah demam reumatik akut tergantung pada tingkat dan tipe regurgitasi aorta dan mungkin dipengaruhi oleh intervensi bedah.
Mortalitas dan morbiditas insufisiensi aorta berhubungan dengan berbagai parameter seperti durasi insufisiensi aorta, keparahan kompetensi katup, mekanisme kompensasi, komplikasi pasca bedah penggantian katup pada simtomatik yang berat. Pada insufsiensi aorta kronik dengan fungsi diastolic ventrikel kiri yang stabil dan mekanisme kompensasi yang sudah lama terjadi akan menimbulkan efek samping berupa lesi baru yang akut. Hal ini berdampak besar pada fungsi katup dan aliran darah yang pada akhirnya bisa memfasilitasi terjadinya dekompensasi. Oleh karena itu, setiap pasien dengan kompensasi insufisiensi aorta kronik yang berat harus diperhitungkan tingginya resiko dekompensasi dengan komplikasi jantung yhang mengancam jiwa.
Data-data riwayat penyakit yang ada sebagian besar berasl dari populasi dewasa yang menderita insufisiensi aorta selama beberapa tahun. Berdasarkan data ini, harapan hidup 5 tahun pasien angina dengan insufisiensi aorta berat yhang tidak dikreksi adalah 50%. Setiap terjadi gagal jantung, 50% pasien yang tidak dikoreksi akan meninggal dalam 2 tahun. Sebaliknya pasien yang dapat terapi pembedahan memiliki mortalitas 1-5%. Diperkirakan bahwa 75% pasien dengan insufisiensi aorta murni adalah laki-laki, sedangkan yang disertai kelainan katup mitral, insidennya lebih tinggi pada wanita. Insufisiensi aorta yang bersamaan dengan penyakit jantung congenital lainnyah, insidennya tidak berhubungan dengan usia. 

1.2  Anatomi Fisiologi
 https://s3.amazonaws.com/healthtap-public/ht-staging/user_answer/reference_image/8908/large/Aortic_regurgitation.jpeg?1349478938
Gambar 1.1 Anatomi Jantung
Jantung merupakan salah satu organ yang terpenting dan mempunyai fungsi vital pada tubuh. Jantung memiliki fungsi sebagai pompa darah ke seluruh tubuh. Sebagai pemompa darah, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar menjadi pemompa yang baik yaitu pengisian darah atrium dan ventrikel optimal, kekuatan kontraksin optimal, frekuensi jantung normal, kontraksi ventrikel dan atrium bergamtian secara teratur serta katup-katup pada jantung berfungsi dengan baik.
Katup jantung bekerja mengatur aliran darah dengan cara membuka serta menutup pada saat tepat ketika jantung berkonstraksi dan berelakasasi selama siklus jantung. Organ jantung itu sendiri memiliki empat jenis katup yaitu (Syarifuddin, 2006):
1.        Katup trikuspidalis, terdapat antara atrium dekstra dengan ventrikel dekstra yang terdiri dari 3 katup.
2.        Katus bikuspidalis, terdapat antara atrium sinistra dengan ventrikel sinistra yang terdiri dari 2 katup.
3.        Katup seminularis arteri pulmonalis, terletak antara ventrikel dekstra dengan arteri pulmonalis, tempat darah mengalir ke paru-paru.
4.        Katup seminularis aorta, terletak antara ventrikel sinistra dengan aorta tempat darah mengalir menuju ke seluruh tubuh.
Katup normal memiliki ciri yaitu aliran darah searah dan tidak terhalangi. Katup akan membuka bila tekanan dalam ruang jantung di proksimal katup lebih besar dari tekanan dalamruang atau pembuluh disebelah distal katup. Sebaliknya, katup akan menutup bila tekanan distal lebih besar daripada tekanan dalam ruang di proksimal katub. Misalnya, katup atrioventrikularis akan membuka bila tekanan dalam atrium lebih besar daripada tekanan dalam ventrikel serta akan menutup apabila tekanan dalam ventrikel lebih besar daripada atrium.
Insufisiensi aorta merupakan salah satu penyakit yang menyerang katup jantung aorta dimana katup jantung tidak dapat menutup rapat atau tidak sempurna sehingga darah dapat mengalir balik atau akan mengalami kebocoran sehingga mengalami regurgitasi. Disfungsi katup jantung akan menyebabkan kinerja jantung akan meningkat dan memaksa jantung untuk memompakan darah lebih banyak guna menggantikan jumlah darah yang mengalami regurgitasi.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgejhiOlBur0-0nv_36w8NPNM5-XtEBsFs3FX-S5KFhLSSTnbF5UFCfW2mPaNiZMjz4WUngBwMY34Li14FxroLQwxwxwkLxkVw2CN_0x0Pl3cBkhTZPi3GNYCiyocVBzi-TOJBK7L2xKo1F/s1600/heart-valves.jpg














Gambar 1.2 Katup jantung
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR9Gpynepp4CC7DfWYKIwUNvCy_BNTlO6k5sXvsyRrkGHFYNrCot82HZ7PL6hkCqmQuJu5Qx9dxywky7lPnxCEBmWe_LbJeYVbT0CS4X6Ti0cGSoCgV20OAkv3ArbseYd7kHmitFiwM3k/s400/insufisiensi_aorta.jpegSumber: http://www.heart-valve-surgery.com/aortic-valve-regurgitationsymptoms
.php









Gambar 1.3 Anatomi katup aorta pada regurgitasi aorta
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/07/1343444922448663469.jpg
 













Gambar 1.3 Skema insufisiensi aorta
Sumber: http://www.google.co.id/imgres






 


BAB 2. KONSEP DASAR PENYAKIT

2.1 Definisi
Menurut Wahab (2009), insufisiensi pulmonal adalah kelainan pada katup aorta yang menjadi lemah ataupun membesar sehingga katup tidak dapat menutup dengan sempurna. Hal ini mengakibatkan timbulnya aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri.  Insufisiensi katup aorta (regurgitasi) adalah kembalinya darah ke ventrikel kiri dari aorta selama diastol. Insufisiensi aorta adalah suatu keadaan dimana terjadi refluk (aliran balik) darah dari aorta ke dalam ventrikel kiri sewaktu relaksasi.
Pada regurgitasi aorta, darah mengalir kembali ke ventrikel kiri dari aorta tepat setelah ventrikel memompakan darah ke aorta sehingga menyebabkan curah volume sekuncup netto jantung berkurang (Guyton, 2007).









Gambar 2.1 Anatomi katup aorta pada insufisiensi aorta
Sumber: http://www.cvtsa.com/AorticValveDiseaseandSurgery/C-539.html

2.2 Etiologi
Insufisiensi darah dari aorta ke ventrikel kiri dapat terjadi dalam 2 macam kelainan artifisial yaitu:
1. Dilatasi pangkal aorta seperti yang ditemukan pada :
a. Penyakit kolagen
b. Aortitis sifilitika
c. Diseksi aorta
2. Penyakit katup artifisial
a. Penyakit jantung reumatik
b. Endokarditis bakterialis
c. Aorta artificial congenital
d. Ventricular septal defect (VSD)
e. Ruptur traumatik
f. Aortic left ventricular tunnel
3. Genetik
a. Sindrom marfan merupakan kelainan herediter dari jaringan ikat yang mempegaruhi paru-paru, keramgka, jantung, dan pembuluh darah yang dapat menyebabkan kelemahan dan ketidakstabilan.
b. Mukopolisakaridosis
Menurut Muttaqin (2009) insufisiensi darah dari aorta ke ventrikel kiri dapat terjadi karena:
1.        Penyakit kolagen
Dengan penuaan, protein collagen dari kelopak-kelopak klep dihancurkan, dan kalsium mengendap pada kelopak-kelopak. Pergolakan diseluruh klep-klep meningkatkan penyebab luka parut dan penebalan. Penyakit yang progresif menyebabkan klasifikasi aorta tidak ada sangkut pautnya dengan piliha-pilihan gaya hidup yang sehat, tidak seperti kalsium yang dapat mengendap pada arteri koroner untuk menyebabkan serangan jantung.
2.        Penyakit jantung reumatik
Rheumatic fever (demam rematik) adalah suatu kondisi yang berakibat dari infeksi oleh kelompok streptococcal bacteria yang tidak dirawat. Kerusakan pada kelopak-kelopak klep dari demam rematik menyebabkan pergolakan yang meningkat diseluruh klep dan lebih banyak kerusakan.
Dibawah keadaan normal, klep aortic menutup untuk mencegah darag dari aorta yang mengalir balik dari ventrikel kiri. Pada aortic regurgitation, klep yang sakit mengizinkan kebocoran dari darah balik kedalam ventrikel kiri ketika otot-otot ventrikel mengendur setelah memompa.
3.        Mikroorganisme
Mikroorganisme yang dapat menyebabkan insuisiensi aorta adalah bakteri (streptokokus, enterokokus, pnemokokus, stapilokokus), fungi, riketsia dan streptokokus vidans. Mikroorganisme tersebut menginvasi katup dan permukaan endotel jantung sehingga menyebabkan rematik endokarditis. Kemudian terjadi fenomena reaksi sensitivitas seperti pembengkakan, fibrosis dan perforasi daun katup. Kemudian terjadi peningkatan pembentukan modul dan jaringan parut, penebalan progresif dan pengerutan bilah-bilah katup yang menyebabkan kerusakan bilah katup sehingga penutupan/kekakuan katup aorta tidak sempurna dan terjadi insufisiensi aorta.
4.        Hipertrofi ventrikel
Ada beberapa penyebab yang dapat mengarah pada hipertrofi ventrikel yaitu bentuk ventrikel yang mengalami pembesaran dan dilatasi sebagai bagian dari kompensasi jantung terhadap penyakit ini. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan otot papilaris untuk mendekatkan daun-daun katup pada waktu katup menutup berkurang. Semakin lama apabila keadaan ini terus berlanjut maka akan memperlebar lubang pada katup aorta dan mempersulit penutupan katup aorta. Serangkaian kejadian ini akan membuat jantung mengalami insufisiensi aorta.
5.        Infark miokard akut
Rupture otot papilaris yang disebabkan oleh infark miokard akut mengakibabkan penutupan atau kekakuan katup aorta sehingga penutupan katup aorta tidak sempurna.
6.        Peningkatan tekanan hemodinamik pada katup aorta
Hal ini membuat peningkatan derajat perubahan bentuk pada katup sehingga penutupan katup tidak sempurna.
7.        Aorta artificial congenital
Kelainan bawaan yang dibawa bayi sejak lahir, misalnya kelainan katup yang tidak bisa menutup secara sempurna saat dalam kandungan, menyebabkan aliran darah dari ventrikel kiri tidak bisa mengalir secara sempurna.
8.        Ventricular septum defect (VSD)
9.        Rupture traumatik

2.3 Patofisiologi

Aortic valve regurgitation
http://www.heart-valve-surgery.com/Images/aortic-valve-regurgitation-image.jpg









Gambar 2.2 Proses terjadinya insufisiensi aorta
Sumber: http://www.heart-valve-surgery.com/aortic-valve-regurgitationsymptoms
.php
Insufisiensi aorta disebabkan oleh lesi peradangan yang merusak bentuk bilah katup aorta, sehingga masing-masing bilah tidak bisa menutup lumen aorta dengan rapat selama diastole dan akibatnya menyebabkan aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri.
Defek katup ini bisa disebabkan oleh endokarditis, kelainan bawaan, atau penyakit seperti sifilis dan pecahnya aneurisma yang menyebabkan dilatasi atau sobekan aorta asenden.
Karena kebocoran katup aorta saat diastole, maka sebagian darah dalam aorta, yang biasanya bertekanan tinggi, akan mengalir ventrikel kiri, sehingga ventrikel kiri harus mengatasi keduanya, yaitu mengirim darah yang secara normal diterima dari atrium kiri maupun darah yang kembali dari aorta. Ventrikel kiri kemudian melebar dan hipertrofi untuk mengakomodasi peningkatan volume ini, demikian juga akibat tenaga mendorong yang lebih dari normal untuk memompa darah, menyebabkan tekanan darah sistolik meningkat. Sistem kardiovaskuler berusaha mengkompensasi melalui refleks dilatasi pembuluh darah dan arteri perifer melemas, sehingga tahanan perifer menurun dan tekanan diastolik turun drastis.
Perubahan hemodinamik keadaan akut dapat dibedakan dengan keadaan kronik. Kerusakan akut timbul pada pasien tanpa riwayat insufisiensi sebelumnya. Ventrikel kiri tidak punya cukup waktu untuk beradaptasi terhadap insufisiensi aorta. Peningkatan secara tiba-tiba dari tekanan diastolik akhir ventrikel kiri bisa timbul dengan sedikit dilatasi ventrikel.










Sumber: Muttaqin (2009)


2.4 Tanda dan Gejala
Adapun tanda dan gejala yang biasa dirasakan oleh pasien dengan aorta regurgitasi adalah sebagai berikut:
1. Rasa lelah
2. Dyspnea saat aktivitas
3. Palpitasi
4. Angina dengan hipertropi ventrikel kiri
5. Temuan hemodinamik:
a. Pengisian dan pengosongan denyut arteri yang cepat
b. Tekanan nadi melebar disertai peningkatan tekanan sistemik dan penurunan tekanan diastolik
c. Tekanan diastolik rendah
6. Auskultasi : Bising diastolic, bising austinflint yang khas, Sistolic Ejection Click disebabkan oleh peningkatan volume ejeksi

2.5 Manifestasi Klinis
Terdapat 2 macam gambaran insufisiensi aorta yang berbeda yaitu (Muttaqin, 2009):
1.    Insufisiensi aorta kronik
Biasanya terjadi akibat proses kronik seperti jantung reumatik, sehingga artificial kardiovaskuler dapat melakukan mekanisme kompensasi, tetapi bila kegagalan ventrikel muncul akan menimbulkan keluhan sesak nafas pada waktu melakukan aktivitas dan sesekali menimbulkan paroksisme nocturnal dyspnea. Keluhan akan semakin memburuk antara 1-10 tahun berikutnya. Angina pectoris muncul pada tahap akhir penyakit akibat rendahnya tekanan atrifisial dan timbulnya hipertrofi ventrikel kiri.
Pemeriksaan jasmani menunjukkan nadi, selar dengan tekanan nadi yang besar dan tekanan artificial rendah, gallop dan bising artificial timbul akibat besarnya curah sekuncup dan insufisiensi darah dari aorta ke ventrikel kiri. Bising atrifisial lebih keras terdengar digaris sterna kiri bawah dan apeks pada kelainan katup katup artificial, sedang pada dilatasi pangkal aorta, bising terutama terdengar digaris sterna kanan. Bila ada rupture daun katup, bising akan sangat keras dan musical.
Kadang-kadang juga ditemukan bising sistolik dan thrill akibat curah sekuncup meningkat (tidak selalu merupakan akibat stenosis aorta). Tabrakan antara insufisiensi aorta yang besar dan aliran darah dari katup mitral menyebabkan bising mid/late diastolic (bising Austin flint).
Elektrokardiografi menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel kiri dengan strain. Foto dada memperlihatkan adanya pembesaran ventrikel kiri, elongasi aorta dan pembesaran atrium kiri. Elektrokardiografi menunjukkan adanya volume berlebih pada ventrikel kiri dengan dimensi ventrikel kiri yang sangat melebar dan gerakan septum dan dinding posterior ventrikel kiri yang hiperkinetik. Kadang-kadang daun katup mitral anterior atau septum interventrikular bergetar halus (fluttering).
2.    Insufisiensi aorta akut
Insufisiensi aorta akut biasanya timbul segera mendadak dan banyak, sehingga belum sempat terjadi mekanisme kompensasi yang sempurna. Gejala sesak nafas yang berat akibat tekanan vena pulmonal yang meningkat secara tba-tiba. Dengan demikian beratnya gagal jantung peninggian tekanan artificial semakin melemah. Hal ini akan menyulitkan diagnosis. Pemeriksaan elektrokardiografi dan foto rongen bisa normal karena belum cukup waktu untuk terjadinya dilatasi dan hipertrofi, tetapi pada ekokardografi terlihat kelebihan volume ventrikel kiri, penutupan artificial katup mitral dan kadang endokarditis bacterial dapat diagnosis dengan katup vegetasi.

2.6 Prosedur Diagnostik
1. Elektrokardiografi
Pada insufisiensi aorta kronik diadapatkan adanya pembesaran ventrikel kiri yang ditandai dengan voltase dan repolarisasi dengan gelombang Q prominen. Pada insufisiensi akut berat tidak disertai dengan adanyai hipertrofi ventrikel kiri dan voltase QRS normal.
2. Sinar-X dada atau radiologi
Pada pemeriksaan ini akan tampak pembesaran  jantung (cardio-thoragic ratio meningkat), distensi vena paru, hidrothorax, lapangan paru bercak-bercak karena edema paru, dan bayangan hili paru tebal dan melebar.
3. Ekokardiografi
Pemeriksaan ini bisa dilakukan untuk melihat struktur dan gerakan katup yang abnormal.
4. Kateterisasi jantung
Pemeriksaan ini akan terlihat ventrikel kiri tampak opag selama penyuntikan bahan kontras ke dalam pangkal aorta.
5.    Pemeriksaan cardiac iso enzim
Pada pasien dengan insufisiensi aorta dalam pemeriksaan ini akan terlihat peningkatan enzim jantung yaitu cpk dan ckmb.

2.7 Penatalaksanaan Medis
2.7.1 Pengobatan farmakologis
Digitalis harus diberikan pada insufisiensi berat dan dilatasi jantung meskipun asimptomatik.insufisiensi aorta karena penyakit jantung reumatik harus mendapat pencegahan sekunder dengan antibiotik.
Beberapa pusat penelitian menganjurkan penggunaan propanolol pada dilatasi aorta akibat sindrom marfan untuk mengurangi pulpasi aorta yang sangat kuat. Pengobatan vasodilator seperti nifedipine, felodipine, dan ACE inhibitor dapat mempengaruhi ukuran dan fungsi dari ventrikel kiri dan mengurangi beban di ventrikel kiri sehingga dapat memperlambat progresivitas dari disfungsi miokardium.

2.7.2 Pengobatan nonfarmakologi
Penggantian katup aorta adalah terapi pilihan, tetapi kapan waktu yang tepat untuk penggantian katup masih kontroversial. Pilihan untuk katup buatan ditentukan berdasarkan umur, kebutuhan, kontraindikasi untuk koagulan, serta lamanya umur katup. Pembedahan dianjurkan pada semua pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri tanpa memperhatikan ada atau tidaknya gejala lain. Bila pasien mengalami gejala gagal jantung kongestif, harus diberikan penatalaksanaan medis sampai dilakukannya pembedahan (Smeltzer, 2001).

2.8  Komplikasi
Insufisiensi aorta dapat menyebabkan overload ventrikel kiri, disfungsi, syok, dan kematian. Insufisiensi aorta kronik merupakan proses yang lebih indolen yang pada akhirnya akan menimbulkan gejala yang disertai disfungsi ventrikel dan gagal jantung.


 


BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Nama Pasien                           : an. Cici
No. Register                            : 130512-312-01
Umur                                       : 15 tahun
Ruangan Rawat                      : Anthurium 312
Suku/Bangsa                           : Jawa/Indonesia
Agama                                     : Islam
Pendidikan                              : SD
Alamat                                    : Jl. Hayam Wuruk 3/30
Diagnosa medis                       : Insufisiensi Pulmonal
Tanggal MRS                         : 10 November 2012

3.1.1    Riwayat Kesehatan
·         Riwayat penyakit
Riwayat penyakit dikaji untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita pasien yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui penyebab lain dari kelainan katup aorta pasien. Penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya insufisiensi aorta yaitu
a.  Penyakit kolagen
b.    Penyakit jantung reumatik
c.    Hipertrofi ventrikel
d.   Infark miokard akut
e.    Peningkatan tekanan hemodinamik pada katup aorta
f.     Aorta artificial congenital
g.    Ventricular septum defect (VSD)
h.    Rupture traumatic

·         Riwayat Kesehatan Keluarga     
Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah dengan melihat riwayat kesehatan keluarga baik dengan cara anamnesa atau wawancara maupun melihat data kesehatan keluarga apabila ada. Biasanya apabila salah satu anggota keluarga sebelumnya pernah memiliki riwayat penyakit jantung maka dapat dicurigai adanya suatu kelainan kongenital dalam hal ini bawaan seperti penyakit jantung bawaan, sehingga penyebab dari kelainan katup aorta pasien adalah turunan.
Lingkungan rumah dan gaya hidup pasien juga perlu dikaji untuk mengetahui penyebab lain dari insufisiensi aorta. Insufisiensi aorta dapat disebabkan oleh bakteri dan mikroorganisme (streptokokus, enterokokus, pnemokokus, stapilokokus), fungi, riketsia dan streptokokus vidans) yang selanjutnya dapat menimbulkan penyakit seperti endokarditis, demam reumatik, dan lain-lain yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat penutupan dari katup aorta.
3.1.2    Pengkajian: NANDA
·         Keluhan Utama                : Sesak nafas dan merasakan debaran jantung yang bertambah kuat. Sesak napas pada malam   hari (ortopneu, paroksismal nokturnal dispneu).
·         Keluhan Tambahan                      : Dispneu saat latihan atau beraktivitas dan mudah letih.
3.1.3        Pemeriksaan Fisik
a.       Inspeksi
Denyutan dan bendungan arteri leher (karotid) terlihat jelas; dipneu saat ortopneu; paroksismal nokturnal dispneu; biasanya pasien mengalami angina pectoris; takipneu; batuk menetap atau nokturnal; terlihat cemas: gelisah, pucat, berkeringat, fokus menurun, gemetar; terjadi edema pada daerah ektremitas.
b.      Palpasi
Denyutan arteri karotid lambat dengan volume nadi kecil, denyutan arteri teraba di daerah perikordium, tekanan nadi melebar (perbedaan tekanan sistolik dan diastolik), denyutan nadi di jari terasa kuat, cepat dan tajam, dan tiba-tiba kolaps (denyut water hammer);
c.       Perkusi
Bunyi redup pada daerah dada akibat terjadi edema pulmonal dan penumpukan sputum.
d.      Auskultasi
-          Bunyi jantung S1 lebih keras dibandingkan S2, palpitasi, adanya gallop dan bising artificial, takikardi. Kadang ditemukan bising sistolik (sistolic ejection click), bising mid/late diastolik (bising Austin Flint), dan thrill.
-          Pernapasan payah dan bising dengan terdengar krekels dan mengi.
3.1.4        Pemeriksaan Penunjang
a.       Elektrokardiografi
Pada insufisiensi aorta kronik diadapatkan adanya pembesaran ventrikel kiri yang ditandai dengan voltase dan repolarisasi dengan gelombang Q prominen. Pada insufisiensi akut berat tidak disertai dengan adanyai hipertrofi ventrikel kiri dan voltase QRS normal.
b.       Sinar-X dada atau radiologi
Pada pemeriksaan ini akan tampak pembesaran  jantung (cardio-thoragic ratio meningkat), distensi vena paru, hidrothorax, lapangan paru bercak-bercak karena edema paru, dan bayangan hili paru tebal dan melebar.
c.        Ekokardiografi
Pemeriksaan ini terlihat struktur dan gerakan katup yang abnormal.
d.       Kateterisasi jantung
Pemeriksaan ini akan terlihat ventrikel kiri tampak opag selama penyuntikan bahan kontras ke dalam pangkal aorta.
e.       Pemeriksaan enzim jantung
Pada pasien dengan insufisiensi aorta dalam pemeriksaan ini akan terlihat peningkatan enzim jantung yaitu cpk dan ckmb.

3.1.5        Analisa Data dan Masalah

KELOMPOK DATA
MASALAH
KEMUNGKINAN PENYEBAB
Data Subyektif:
1.      Keluhan yang dirasakan pasien selama sakit,
2.      Keterangan keluarga tenntang kondisi pasien.

Data Obyektif:
1.      Pengkajian TTV pasien,
2.      Respon pasien terhadap keluhan penyakitnya,
3.      Hasil data penunjang pasien.
1.      Sesak nafas
2.      Insufisiensi aorta
1.      Genital
2.      Penyakit jantung rematik
3.      Mikroorganisme
4.      Infark mioard akut
5.      Peningkatan tekanan hemodinamik pada katup aorta
6.      Aorta artificial congenital
7.      VSD


3.1.6        Pathways Insufisiensi Aorta

 






















3.2    Diagnosa Keperawatan (NANDA)
1.        Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan dalam preload/peningkatan tekanan atrium dan kongesti vena yang ditandai dengan pasien bertanya, “ Mbak, kenapa ya kok akhir-akhir ini saya mudah sekali letih dan lemas?”, pada saat dilakukannya inspeksi dan palpasi oleh perawat ditemukannya edema pada daerah ekstremitas bawah.
2.        Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan miokard yang ditandai dengan pasien mengatakan, “Mbak, dada saya terasa sakit saat bernafas dan melakukan aktivitas yang terlalu berat.”, dan setelah dilakukannya pengukuran tekanan darah didapatkan hasil tekanan darah pasien160/100 mmHg dan nadi pasien 130x/menit.
3.        Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan yang ditandai dengan pasien bertanya, “ Mbak, kenapa ya kok akhir-akhir ini saya mudah sekali letih dan lemas?”, dan setelah dilakukannya pengukuran tekanan darah didapatkan hasil tekanan darah pasien 160/100 mmHg dan nadi pasien 130x/menit.









3.3    Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan dalam preload/peningkatan tekanan atrium dan kongesti vena yang ditandai dengan pasien bertanya, “ Mbak, kenapa ya kok akhir-akhir ini saya mudah sekali letih dan lemas?”, pasien mengatakan, “Mbak, dada saya terasa sakit saat bernafas dan melakukan aktivitas yang terlalu berat.”, dan  pada saat dilakukannya inspeksi dan palpasi oleh perawat ditemukannya edema pada daerah ekstremitas bawah.

Tujuan:
Menunjukkan penurunan nyeri dada pasien.
Kriteria Hasil:
Pasien tidak lagi mengalami nyeri dada saat bernafas dan beraktivitas.
1.      Lakukan pemantauan TD dan nadi.



2.      Bantu dengan aktivitas sesuai indikasi (misal: berjalan) bila pasien mampu turun dari tempat tidur
3.      Atur posisi saat istirahat dengan posisi semi fowler .
4.      Kolaborasikan dengan tim kesehatan lain dalam pemberian oksigen suplemen dan obat-obatan sesuai indikasi.
1.      Indikator klinis dari keadekuatan curah jantung. Pemantauan memungkinkan deteksi dini/tindakan terhadap dekompensasi.
2.      Melakukan kembali aktivitas secara bertahap mencegah pemaksaan terhadap cadangan jantung.
3.      Posisi semi fowler memudahkan oksigenasi.
4.      Memberikan oksigen untuk ambilan miokard dalam upaya untuk mengkompensasi peningkatan kebutuhan oksigen.
2
Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan miokard yang ditandai dengan pasien mengatakan, “Mbak, dada saya terasa sakit saat bernafas dan melakukan aktivitas yang terlalu berat.”, dan setelah dilakukannya pengukuran tekanan darah didapatkan hasil tekanan darah pasien140/100 mmHg dan nadi pasien 130x/menit.


Tujuan:
Nyeri pasien hilang/ terkontrol.
Kriteria Hasil:
Pasien tidak lagi mengalami nyeri dada saat bernafas dan beraktivitas, serta tekanan darah dan nadi pasien kembali normal.
1.      Lakukan pemantauan laporan nyeri dada dan bandingkan dengan nyeri sebelumnya. Gunakan skala nyeri (0-10) untuk rentang intensitas.
2.      Catat ekspresi verbal/non verbal nyeri, respons otomatis terhadap nyeri (berkeringat, TD dan nadi berubah, peningkatan atau penurunan frekuensi pernapasan).
3.      Berikan lingkungan istirahat dan batasi aktivitas sesuai kebutuhan.



4.      Kolaborasikan dengan tim medis lainnya dengan memberikan vasodilator, contoh nitrogliserin, nifedipin (Procardia) sesuai indikasi.


1.      Perbedaan gejala perlu untuk mengidentifikasi penyebab nyeri.



2.      Perilaku dan perubahan tanda vital membantu menentukan derajat/ adanya ketidaknyamanan pasien khususnya bila pasien menolak adanya nyeri.

3.      Aktivitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokardia (contoh kerja tiba-tiba, stres, makan banyak, terpajan dingin) dapat mencetuskan nyeri dada.
4.      Obat diberikan untuk meningkatkan sirkulasi miokardia (vasodilator) menurunkan angina sehubungan dengan iskemia miokardia.

3
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan yang ditandai dengan pasien bertanya, “ Mbak, kenapa ya kok akhir-akhir ini saya mudah sekali letih dan lemas?”, dan setelah dilakukannya pengukuran tekanan darah didapatkan hasil tekanan darah pasien 140/100 mmHg dan nadi pasien 130x/menit.

Tujuan:
Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas.
Kriteria Hasil:
Pasien tidak lagi mengalami nyeri dada saat bernafas dan beraktivitas, serta tekanan darah dan nadi pasien kembali normal.
1.      Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas menggunakan parameter berikut: frekuensi nadi 20/menit diatas frekuensi istirahat; catat peningkatan TD, dispnea atau nyeri dada; kelelahan berat dan kelemahan; berkeringat; pusing; atau pingsan.
2.      Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri.
3.      Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri.




4.      Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya.
1.      Parameter menunjukkan respons fisiologis pasien terhadap stres aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja/jantung.








2.      Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual.



3.      Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
4.      Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.


3.4    Implementasi Keperawatan
No. Dx.
Hari, tanggal
Waktu
Implementasi
TTD
1
Jum’at, 11 November 2012
07.30 WIB
07.37 WIB

07.56 WIB

08.10 WIB
1.      Telah dilakukan pemantauan TD dan nadi.
2.      Telah dibantu dengan aktivitas sesuai indikasi (misal: berjalan) dan pasien mampu turun dari tempat tidur
3.      Telah dilakukan pengaturan posisi saat istirahat dengan posisi semi fowler .
4.      Telah dilakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian oksigen suplemen dan obat-obatan sesuai indikasi.

2
Jum’at, 11 November 2012
08.30 WIB


08.34 WIB


08.36 WIB

09.00 WIB
1.      Telah dakukan pemantauan laporan nyeri dada dan bandingkan dengan nyeri sebelumnya. Tindakan menggunakan skala nyeri (0-10) untuk rentang intensitas.
2.      Telah di catat ekspresi verbal/non verbal nyeri, respons otomatis terhadap nyeri (berkeringat, TD dan nadi berubah, peningkatan atau penurunan frekuensi pernapasan).
3.      Telah diberikan lingkungan istirahat dan batasi aktivitas sesuai kebutuhan.
4.      Telah dilakukan kolaborasi dengan tim medis lainnya dengan memberikan vasodilator, yaitu nitrogliserin, nifedipin (Procardia) sesuai indikasi.

3
Jum’at, 11 November 2012
15.30 WIB




15.35 WIB


15.40 WIB
16.00 WIB
1.      Telah dikaji toleransi pasien terhadap aktivitas menggunakan parameter berikut: frekuensi nadi 20/menit diatas frekuensi istirahat; mencatat peningkatan TD, dispnea atau nyeri dada; kelelahan berat dan kelemahan; berkeringat; pusing; atau pingsan.
2.      Telah dikaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri.
3.      Telah didorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri.
4.      Telah diberikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya.

3.5    Evaluasi Keperawatan (SOAP)
No. Dx.
Hari, tanggal
Waktu
Evaluasi
TTD
1
Jum’at, 11 November 2012
08.12 WIB
S: Pasien mengatakan “Terimakasih suster, saya sudah lebih baikan, lemah dan letih saya mulai berkurang, dan dengan posisi seperti ini (semifowler) saya merasa lebih nyaman.”
O: Pasien tampak tersenyum menandakan keletihan sudah mulai berkurang.
A: Penurunan nyeri dada pasien teratasi
P: Hentikan Intervensi

2
Jum’at, 11 November 2012
10.00 WIB
S:  Pasien mengatakan “Terimakasih suster, nyeri pada dada saya sudah mulai berkurang, dan saya akan membatasi aktifitas saya kemudian beristirahat.”
O: Pasien tampak menghentikan aktifitas-aktifitasnya kemudian siap untuk istirahat.
A: Nyeri pasien hilang/terkontrol.
P: Hentikan Itervensi.

3
Jum’at, 11 November 2012
17.00 WIB
S: Pasien mengatakan “Terimakasih suster, saya sudah bisa melakukan aktifitas saya sendiri secara mandiri.”
O: Pasien tampak melakukan aktifitas perawatan diri secara mandiri.
A: Intoleransi aktifitas teratasi
P: Hentikan intervensi.


3.6    Discharge Planning
1.      Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang tata cara merawat diri di rumah.
2.      Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan terutama lingkungan di dalam rumah dan gaya hidup sehat.
3.      Berikan pendidikan dan konseling kepada keluarga tentang efek dari perawatan yang telah dilakukan di rumah sakit.
4.      Ajarkan keluarga pasien agar membimbing pasien untuk tetap melakukan mobilisasi fisik secara mandiri di rumah.
5.      Beritahu keluarga pasien agar selalu memantau kedisiplinan pasien dalam meminum obat dan pemberian informasi tentang efek obat yang diberikan kepada pasien.




 


BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Insufisiensi pulmonal adalah kelainan pada katup aorta yang menjadi lemah ataupun membesar sehingga katup tidak dapat menutup dengan sempurna. Insufisiensi darah dari aorta ke ventrikel kiri dapat terjadi dalam 2 macam kelainan artifisial yaitu, dilatasi pangkal aorta, penyakit katup artifisial, dan genetik. Tanda dan gejala yang biasa dirasakan oleh pasien dengan aorta regurgitasi adalah sebagai berikut, rasa lelah, dyspnea saat aktivitas, palpitasi, angina dengan hipertropi ventrikel kiri, temuan hemodinamik (pengisian dan pengosongan denyut arteri yang cepat, tekanan nadi melebar disertai peningkatan tekanan sistemik dan penurunan tekanan diastolik, tekanan diastolik rendah),dan auskultasi (bising diastolic, bising austinflint yang khas, Sistolic Ejection Click disebabkan oleh peningkatan volume ejeksi). Ada dua macam manifestasi klinik pada insufisiensi aorta yaitu, insufisiensi aorta kronik dan akut. Pada prosedur diagnostik dapat pula dilakukan elektrokardiografi, sinar-X dada, ekokardiografi, kateterisasi jantung, aortografi, dan penigkatan cardiac iso enzim.

4.2 Saran
Penggantian katup aorta adalah terapi pilihan, tetapi kapan waktu yang tepat untuk penggantian katup masih kontroversial. Pilihan untuk katup buatan ditentukan berdasarkan umur, kebutuhan, kontraindikasi untuk koagulan, serta lamanya umur katup. Pembedahan dianjurkan pada semua pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri tanpa memperhatikan ada atau tidaknya gejala lain. Bila pasien mengalami gejala gagal jantung kongestif, harus diberikan penatalaksanaan medis sampai dilakukannya pembedahan.



 




DAFTAR PUSTAKA



Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC.

Herdman, Heather. 2010. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Vol 2. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Syarifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Wahab, Samik A. 2009. Kardiologi Anak: Penyakit Jantung Kongenital yang Tidak Sianotik. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan denga Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.